Bagaimana Sih Punya Rumah di Daerah Rawan Longsor?


Gimana Pengaruhnya Terhadap Harga Properti?

Selamat pagi urbanites, pernah tidak dari kalian berpikir gimana sih rasanya punya rumah di daerah rawan longsor, atau di daerah bukit gunung. Khususnya di daerah pegunungan seperti saya ini. Saat ini saya tinggal di daerah lembang, tepatnya yaitu di cikole. Pasti orang bandung sudah tidak asing lagi dengan tempat ini.

Nah semenjak musim hujan ini, yang hampir mengguyur Kota Bandung dan Sekitarnya membuat saya khawatir akan longsor, ataupun pohon tumbang. Lantaran sya tinggal di daerah dataran tinggi.

Memang tinggal di dataran tinggi memiliki pemandangan yang sangat indah, apalagi saya yang cinta lingkungan, pasti semua orang senang melihat pemandangan kota dari dataran tinggi.


Tinggal di dataran tinggi memiliki pesona yang begitu Indah

Selain itu juga bisa bangun villa, seperti di kawasan bogor puncak dan di kota2 lainnya. dan terkadang tidak heran juga harga lahannya tinggi dengan alasan utama pemandangan alam yang indah dan sejuk.

Tetapi nih, memiliki resiko juga tinggal di dataran tinggi. Pasti kalian sudah tahu resikonya itu seperti tanah longsor. Bisa sampai menimbun barang2 beharga dan aset properti Anda ataupun menimbun rumah tetangga sebelah, atau bahkan bisa sampai menutupi badan jalan bila memiliki rumah di pinggir jalan. Seperti kejadian baru2 ini terjadi tanah longgor di lembang, tepatnya di kolonel masturi.

Sebelum anda meyakinkan diri untuk tinggal di dataran tinggi perhatikan dulu hal - hal berikut, sya kasih tipsnya yang mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua.

1. Tingkat Kemiringan Tanah
Semakin curam (mendekati vertikal) kemiringannya, maka potensi terjadinya longsor juga akan semakin besar. Kemiringan maksimal lahan yang bisa didirikan rumah di atasnya adalah 30°. Untuk kemiringan di atas 30°, Anda harus membuat retaining wall atau turap, yaitu dinding penahan tanah untuk meminimalisasi terjadinya longsor.

Cara yang belakangan paling banyak dipakai adalah cut and fill, yaitu mengeruk tanah untuk meratakan bagian yang curam. Cara ini bisa saja dilakukan. Tetapi, jika di kawasan yang sama hal ini terlalu sering diterapkan, maka berpotensi mengubah penampakan kontur dan berpotensi menimbulkan bencana alam.

2. Daerah Aliran Air


Sebelum membali lahan atau bangunan di pegunungan, perhatikan apakah tempat tersebut masuk atau dekat dengan daerah aliran air. Daerah aliran air ini cukup berbahaya karena strukturnya lebih labil/mudah berubah. Tanahnya juga cenderung mengalami pergerakan terus-menerus, sehingga pembangunan di area ini tidak diperkenankan.

Daerah aliran air bisa diketahui dari bentuk lekukan. Jika Anda memandang dari kejauhan bahwa wilayah tersebut masuk dalam lekukan gunung, maka itulah termasuk daerah aliran air. Jangan pula membeli atau membangun di area di bawahnya karena lebih rawan longsor. Tetapi, jika Anda terlanjur membeli atau memiliki tanah di area ini, siasati dengan penanaman pohon berakar kuat untuk menahan agar tanah tidak mudah bergeser.

3. Koefisien Dasar Bangunan

Koefisien Dasar Bangunan (KDB) ditetapkan untuk menjaga jumlah area hijau dan kelestarian lingkuhan hidup di wilayah permukiman. Di wilayah yang datar, KDB-nya adalah 60% dengan area hijau 40%. Untuk daerah berkontur seperti perbukitan dan pegunungan, berlaku kebalikannya. Ini karena sifat tanah di lahan berkontur yang lebih rawan longsor, sehingga harus dipastikan bahwa luasan area hijau tetap tersedia dengan baik.

4. Fasilitas dan Aksesbilitas


Tidak semua daerah di pegunungan memiliki akses yang mudah seperti di kota-kota wisata. Membangun rumah di lahan tersebut juga diperkirakan akan membutuhkan waktu dan biaya yang lebih tinggi. Risikonya pun lebih besar daripada membangun rumah di wilayah yang lebih datar.

Daerah pegunungan juga biasanya jauh dari berbagai fasilitas umum, seperti sarana pendidikan, sinyal telepon seluler dan internet, fasilitas kesehatan, maupun tempat pemenuhan kebutuhan pokok. Jika Anda membeli rumah dari pengembang, pastikan pengembang tersebut sudah menyiapkan berbagai fasilitas yang dibutuhkan.

5. Menanam Pohon


Menanam pohon adalah salah satu cara agar tanah tidak longsor. Anda bisa menanamnya dengan pohon yang kuat akarnya seperti pohon bambu. Apabila dari kalian ada yang pernah rafting perhatikan di pinggir kiri dan kanan banyak di tanami pohon bambu agar tidak terjadi longsor. Walaupun akar pohon bambu kecil namun jumlahnya yang banyak ternyata seperti ikatan yang kuat menahan tanah dari terjangan air hujan, dan pohon bambu yang berongga-rongga ruasnya ternyata mampu menampung air hujan didalam pohonya sehingga tidak langsung mengalir ke sungai.

6. Lakukan Upaya Preventif


Dengan cara mengecek apakah terdapat retakan pada tanah, jika ditemukan maka segera tutup celah retakan itu dengan tanah lempung supaya tidak banyak air masuk kedalam celah retakan tersebut. Selain itu dengan menjaga kelestarian vegetasi di sekitar tebing juga menjadi salah satu upaya pencegahan yang terbukti efektif.

7. Membuat Terasering


Jika suatu lahan miring terpaksa digunakan untuk membuat sawah atau ladang maka sebaiknya buatlah sistem bertingkat sehingga akan memperlambat run off (aliran permukaan) ketika hujan. Jangan lupa atur drainase supaya tidak ada air yang tergenang di lereng. Dengan demikian semakin jauh potensi terjadinya tanah longsor.

8. Jangan Menebang Pohon Di Sekitar Lereng


Jika kita akan menebang pohon disekitar lereng tentunya tidak patut jika melakukan penebangan pohon yang berada di area lereng atau tebing. Banyak yang tidak mengetahui bahwa semakin banyaknya pohon maka semakin kuat dan stabil suatu tanah, karena akar-akar dari pohon-pohon tersebut menyebar dan saling bersinggungan sehingga bisa membantu tanah tidak mudah longsor karena akan menjadi penahan tanah.

Tanda - Tanda Terjadinya Tanah Longsor

Setiap bencana alam, khususnya tanah longsor tidak terjadi begitu saja. Beberapa saat sebelum terjadinya longsoran tanah skala besar, sebenarnya masyarakat sudah bisa mengetahui peringatan dini yang tampak dari tanda dan ciri spesifik yang timbul. Jadi hal ini bisa dijadikan alarm peringatan untuk segera waspada jika banyak muncul tanda tersebut. Berikut ciri ciri awal tanah longsor.

Berikut adalah penjelasan mengenai tanda-tanda terjadinya tanah longsor :
1. Banyak pohon dan tiang listrik miring
2. Tebing terlihat rapuh dan kerikil banyak yang berjatuhan
3. Tidak ada air yang menggenang saat hujan
4. Muncul retakan tanah pada tebing
5. Amblasnya bagian luar atau dalam rumah

Pengarauh Terhadap Properti

Wajar saja jika Anda hendak menjual properti di lokasi rawan longsor, dan calon pembeli pun enggan membelinya. Walaupun rumah Anda itu berada di lokasi strategis sekalipun, seperti contohnya di tempat banyak wisata seperti lembang dan sekitarnya. Bisa jadi harga properti Anda turun, dan bank pun enggan memberikan pinjaman KPR untuk properti yang dijual di daerah tersebut.